Sejarah

Beginilah Sejarah Islam Ditulis 

Oleh Habib Ali Umar Al Habsyi (Anggota Dewan Syura IJABI) 

Bukan rahasia lagi bahwa penulisan sejarah Islam tidak lepas dari intervensi kepentingan politik para penguasa dan pernikahan kemazhaban yang melibatkan para sejarawan, para ulama dan cendekiawan.  

Mereka akan berantusias mem-viralkan kisah sejarah yang menguntungkan -betapa pun sering kali validitasnya masih disangsikan-. Sementara dokumen-dokumen sejarah yang tidak sejalan dengan kepentingan para penguasa, atau si penulis sejarah, maka ia bersungguh-sungguh dalam merahasiakannya bahkan memusnahkan catatan-catatan tentangnya.  

Sungguh malang memang nasib sejarah umat Islam.  

Dalam tulisan singkat ini, tidak mungkin seluruh data kerahasiaan dan pemusnahan dokumen sejarah itu disebutkan.  

Pembaca hanya saya ajak membaca dengan baik catatan sejarah di bawah ini: 

Al Balâludzuri melaporkan: 

ولمّا أخرج عبد الله بن الزبير محمّد بن الحنفية عن مكة أغلظ له ابن عباس وقال له: أتخرج بني عبد المطلب عن حرم الله وهم أحق به منك… . 

“Dan ketika Abdullah bin Zubair mengeluarkan/mengusir Muhammad Ibnu Hanifiyah (putra Imam Ali) dari Mekkah, Ibnu Abbas mengkritiknya dengan keras dan berkata: ‘Apakah kamu mengeluarkan/mengusir keturunan Abdul Muttalib dari tanah suci Allah, padahal mereka lebih berhak atasnya daripada kamu … . ” 

iklan

Ibnu Al Atsîr dalam Al Kâmil -nya berkata: 

فدخل ابن عباس على ابن الزبير وأغلظ له فجرى بينهما كلام كرهنا ذكره 

“Maka Ibnu Abbas masuk menemui Ibnu Zubair dan menghardiknya dengan keras, sehingga terjadi perdebatan di antara keduanya yang tidak ingin kami sebutkan. 

Di sini Ibnu Al Atsîr secara terbuka mengatakan bahwa ia tidak suka menyebutkan secara rinci apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas kepada Ibnu Zubair, karena dia tidak ingin menyebutkan kata-kata yang kasar atau tidak pantas. 

Ini menunjukkan bahwa;  

  1. Perdebatan antara keduanya sangat keras dan tidak sopan, sehingga Ibnu Atsîr memilih untuk tidak menuliskannya secara rinci.
  2. Dan ini sebagai bukti intervensi penulis dalam merahasiakan dokumen sejarah.

Dan apa yang dilakukan Ibnu Al Atsîr bukan satu-satunya contoh dalam kasus serupa. Jauh sebelumnya Ibnu Jarîr ath Thabari juga telah mentradisikan perahasiaan dokumen sejarah yang tidak sejalan dengan kepentingan politik dan selera Mazhab.

Kalaupun Ibnu Al Atsîr menutup-nutupi dan tidak suka menyebutkan perdebatan antara Ibnu Abbas ra dan Ibnu Zubair, maka al Khawârizmi (w.568 H) tidak demikian,  ia lebih mengedepankan amanat sejarah ketimbang kepentingan politik atau Mazhab, karenanya ia pun menyebutkan dokumen itu, sebagaimana di bawah ini: Al-Khwarizmi berkata dalam kitab Maqtal al Husain: 251: “Kemudian Mus‘ab mengirim kepala al-Mukhtar kepada Abdullah bin Zubair. Lalu Abdullah memerintahkan agar kepala al-Mukhtar dipasang di al-Abthah/lembah. Padahal sebelumnya ia enggan memasang kepala Ibnu Ziyad di luar tanah haram ketika Muhammad bin al-Hanafiyyah meminta hal itu. 

Kemudian Abdullah bin Zubair mengirim utusan kepada Ibnu Abbas dan berkata: 
‘Wahai Ibnu Abbas, sesungguhnya Allah telah membunuh al-Mukhtar si pendusta.’

Ibnu Abbas menjawab: ‘Semoga Allah merahmati al-Mukhtar.’
Ibnu Zubair berkata: ‘Seakan-akan engkau tidak suka ia disebut pendusta?’

Ibnu Abbas menjawab: ‘Sesungguhnya al-Mukhtar adalah seorang yang mencintai kami dan mengetahui hak kami. Ia bangkit dengan pedangnya untuk menuntut darah kami. Maka balasan yang layak baginya dari kami bukanlah mencacinya dan menamakannya pendusta.” 

Al-Khwarizmi melanjutkan: “Abdullah bin Zubair terus bersungguh-sungguh memusuhi Muhammad bin al-Hanafiyyah, Ibnu Abbas, dan Ahlulbait lainnya, hingga ia memenjarakan keduanya karena tidak mau membai’atnya. Sebelumnya ia pernah memenjarakan Muhammad bin al-Hanafiyyah di Qubbah asy Syarab. Ketika al-Mukhtar mengetahuinya, ia mengirim Abu Abdillah al-Jadali bersama pasukan besar untuk membebaskannya, dan ia mengancam Ibnu Zubair jika berani menakutinya. Maka Ibnu Zubair pun menahan diri hingga al-Mukhtar terbunuh. Setelah itu ia kembali pada permusuhan lamanya, hingga suatu hari ia berkata kepada Ibnu Abbas:

‘Al-Mukhtar si pendusta telah terbunuh—orang yang kalian berharap dapat menolong kalian.’

Ibnu Abbas menjawab: ‘Biarkan al-Mukhtar. Masih ada satu fase lagi yang akan datang kepadamu dari Syam. Jika engkau melewatinya, engkau akan menjadi dirimu (yang besar), namun jika tidak, engkau lebih hina dari seekor anjing di gang masjid.’

Maka Ibnu Zubair marah dan berkata: ‘Aku bukan heran padamu, tapi aku heran pada diriku sendiri—mengapa aku membiarkanmu berbicara di hadapanku sebebas ini.’

Ibnu Abbas tersenyum dan berkata: ‘Demi Allah, aku pernah berbicara di hadapan Rasulullah (saw) ketika aku masih kecil, dan berbicara di hadapan Abu Bakar, lalu di hadapan Umar, Utsman, dan Ali ketika aku dewasa, dan mereka memandangku sebagai orang yang paling layak berbicara, mendengarkan pandanganku serta menerima nasihatku. Dan mereka yang kusebutkan itu setelah Rasulullah jauh lebih baik darimu dan dari ayahmu.’

Kemarahannya pun bertambah dan ia berkata: ‘Sungguh aku tahu bahwa engkau selalu membenci aku dan keluargaku. Dan aku pun sejak kecil selalu membenci kalian, wahai Bani Hasyim. Aku telah menyembunyikan kebencianku selama empat puluh tahun.’

Ibnu Abbas berkata: ‘Tambahlah kebencianmu sesuka hatimu, demi Allah kami tidak peduli apakah engkau mencintai kami atau membenci kami.’ 

Ibnu Zubair berkata:
‘Pergilah dariku! Aku tidak ingin melihatmu lagi!’
Ibnu Abbas berkata: ‘Demi Allah, aku tidak butuh berada di sisimu.’

Kemudian Ibnu Zubair kembali berkata: ‘Tinggalkan semua ini, dan pergilah kepada sepupumu -yakni Muhammad bin Ali (as)- dan katakan kepadanya agar keluar dari wilayahku. Jangan berlama-lama, karena aku tidak mengira ia akan selamat dariku atau lepas dari cengkeramanku.’

Ibnu Abbas berkata: ‘Pelan-pelan wahai Ibnu Zubair, karena setelah hari ini masih ada hari esok.’
Ibnu Zubair menjawab: ‘Benar, setelah hari ini ada esok. Tapi engkau tidak pantas membicarakan seseorang yang lemah, bodoh, tidak memiliki kedudukan dan tidak ada amal baik yang dikenang.’
Maka Ibnu Abbas pun marah dan berkata: ‘Hal ini tidak lagi bisa ditahan, wahai Ibnu Zubair. Demi Allah, sesungguhnya ayahnya lebih baik daripada ayahmu, keluarganya lebih baik daripada keluargamu, dan dia sendiri lebih baik darimu. Demi Allah, jika ia lebih buruk darimu dalam urusan dunia dan agama, maka Allah tidak akan melemparkan engkau kepadanya.’

Kemudian Ibnu Abbas bangkit dalam keadaan marah dan berkata: ‘Demi Allah, satu ruas jari Muhammad bin al-Hanafiyyah lebih aku cintai daripada diri Ibnu Zubair dan seluruh keluarganya! Sesungguhnya ia lebih sempurna akalnya, lebih baik agamanya, lebih tinggi rasa malunya, dan lebih besar ketakwaannya.’

Al-Khwarizmi berkata: “Lalu Ibnu Zubair keluar bersama sekelompok pengikutnya. Ia berdiri dan berkhutbah kepada masyarakat: ‘Wahai manusia, di tengah kalian ada seorang laki-laki yang Allah butakan hatinya. Ia merendahkan Aisyah Ummul Mukminin dan mencela Thalhah dan Zubair, sahabat Rasulullah.’

Yang ia maksudkan adalah Ibnu Abbas. Ketika Ibnu Abbas mendengarnya, ia segera berdiri dan berkata: ‘Wahai Ibnu Zubair, adapun yang engkau sebut tentang Ummul Mukminin Aisyah, maka orang pertama yang merobek hijabnya adalah engkau, ayahmu, dan pamanmu Thalhah. Allah telah memerintahkannya tinggal di rumahnya tetapi ia tidak melakukannya. Semoga Allah memaafkannya dan merahmatinya.

Namun engkau, ayahmu, dan pamanmu, kami telah memerangi kalian di hari Jamal. Jika kami saat itu orang beriman maka kalian telah kafir karena memerangi kaum beriman. Dan jika kami saat itu kafir, maka kalian telah kafir karena lari dari medan perang.’

Ibnu Zubair berkata: ‘Pergilah dari hadapanku dan jangan tinggal dekatku.’
Ibnu Abbas menjawab: ‘Ya, demi Allah aku akan pergi. Perginya orang yang engkau benci dan engkau cela!’

Kemudian Ibnu Abbas berdoa: ‘Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Berkuasa atas makhluk-Mu, mengawasi setiap jiwa dengan apa yang ia perbuat. Ya Allah, sesungguhnya orang ini telah menunjukkan permusuhan dan kebencian kepada kami. Maka timpakanlah kepadanya hukuman-Mu, kirimkan kepadanya bencana dari sisi-Mu, dan kuasakanlah atasnya orang yang tidak akan mengasihaninya.’ 

Habib Ali Umar Al-Habsyi
+ posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button