Menjaga Titik Temu Kebangsaan Melalui Pemikiran Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat

Perjalanan sejarah republik ini tidak pernah lepas dari sumbangsih para pemikir Islam yang berupaya mempertemukan nilai-nilai keimanan dengan realitas kebangsaan yang sangat beragam. Di ruang-ruang diskusi publik hingga lembaga pendidikan, gagasan tentang keadilan sosial, penghargaan terhadap sesama manusia, serta pencarian titik temu antar-golongan kerap menjadi fondasi utama dalam merajut harmoni sosial. Dalam arus besar pemikiran tersebut, sosok Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat tampil sebagai salah satu intelektual yang konsisten menyuarakan pentingnya pencerahan nalar, penguatan spiritualitas, serta pembelaan yang berpihak kepada kelompok masyarakat yang tertindas atau mustadh’afin. Beliau mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mengurai benang kusut pemikiran keagamaan yang kerap terjebak pada formalisme sempit, seraya mengajak umat melihat esensi ajaran Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.
Pandangan kebangsaan yang beliau bangun tidak pernah berdiri di atas menara gading yang jauh dari persoalan konkret sehari-hari yang dihadapi oleh umat di tengah masyarakat. Sebaliknya, beliau melihat bahwa kekayaan budaya, suku, dan perbedaan pandangan di tengah masyarakat Indonesia adalah sebuah keniscayaan sejarah yang harus dirawat dengan kedewasaan berpikir dan keterbukaan jiwa. Ketika mendirikan Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) bersama para pendiri lainnya pada tanggal 1 Juli 2000 di Gedung Asia Afrika Bandung, semangat dasar yang diusung adalah menghidupkan kembali roh pembebasan dan pencerahan yang inklusif. Ormas ini lahir bukan untuk memperlebar jurang perbedaan mazhab, melainkan menjadi wadah kultural yang menghimpun para pencinta keluarga suci Nabi serta seluruh elemen bangsa untuk merajut persatuan di atas landasan kemuliaan akhlak yang luhur.

Sikap kritis terhadap kecenderungan sektarianisme menjadi salah satu benang merah dalam seluruh kerja intelektual Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat. Beliau berulang kali mengingatkan bahwa umat Islam sering kali dirugikan oleh sikap merasa paling benar sendiri, yang pada gilirannya melahirkan eksklusivitas, prasangka buruk, dan permusuhan di ruang publik. Padahal, warisan keislaman yang kaya raya justru mengajarkan pentingnya dialog yang setara, keterbukaan pikiran, serta penghargaan yang tulus terhadap keragaman mazhab fikih maupun teologi. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa perbedaan pendapat semestinya disikapi sebagai dinamika berpikir yang wajar, bukan sebagai alasan untuk saling mengafirkan atau merusak keutuhan ikatan kebangsaan yang sudah terjalin lama di antara sesama warga negara.
Komitmen kebangsaan ini semakin menemukan bentuk konkretnya tatkala beliau dan lembaga yang dipimpinnya menempatkan Pancasila sebagai modus vivendi yang sangat relevan bagi kehidupan bernegara. Di tengah gelombang perubahan sosial yang kerap melunturkan nilai-nilai dasar berbangsa, pengembalian posisi Pancasila sebagai titik temu seluruh golongan merupakan sebuah keharusan sejarah yang tidak bisa ditawar lagi. Upaya ini diterjemahkan melalui berbagai kegiatan ilmiah dan dialog kebangsaan, termasuk kerja sama strategis dengan lembaga pertahanan negara untuk meneguhkan kembali kesadaran kolektif bahwa seluruh suku, agama, dan budaya di bumi Nusantara adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. Melalui pandangan-pandangan tersebut, beliau membuktikan bahwa kecintaan kepada agama dan kesetiaan kepada negara berjalan seiring sejalan tanpa harus saling mempertentangkan.

Merawat warisan pemikiran yang begitu berharga tentu menuntut keterlibatan aktif dari berbagai lapisan masyarakat agar gagasan besar tersebut tidak berhenti sekadar sebagai wacana teoretis di atas kertas. Ada beberapa langkah nyata yang dapat dikerjakan secara konsisten oleh warga maupun para pengambil kebijakan di tingkat komunitas untuk meneruskan semangat perjuangan tersebut. Pertama, ruang-ruang perjumpaan lintas kelompok perlu terus dibuka secara luas melalui dialog yang jujur, setara, dan jauh dari arogansi kelompok yang memecah belah persaudaraan. Kedua, institusi pendidikan dan keagamaan harus memperkuat kurikulum yang menanamkan kecintaan pada keragaman, sikap toleran, serta kepedulian nyata terhadap nasib sesama warga yang membutuhkan uluran tangan. Dengan menggerakkan langkah-langkah solutif tersebut, semangat pencerahan yang diwariskan Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat akan terus hidup, membimbing nurani publik, dan memandu perjalanan bangsa Indonesia menuju masa depan yang adil serta beradab.
Sumber dan basis data
- Sejarah lahirnya IJABI pada 1 Juli 2000 di Gedung Asia Afrika Bandung serta peran Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat sebagai Ketua Dewan Syura (Sumber: Rujukan resmi IJABI dan JalanRahmat)


