Landasan Pemikiran Lima Pilar IJABI dalam Merawat Kebinekaan dan Kemanusiaan

Gedung Asia Afrika di Bandung menyimpan jejak sejarah panjang tentang semangat pembebasan dan kemanusiaan. Di ruang bernilai historis tersebut, pada 1 Juli 2000, Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) resmi dideklarasikan. Dipimpin oleh Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat selaku Ketua Dewan Syura dan DR. Ir. Dimitri Mahayana sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, wadah keagamaan ini lahir untuk menghimpun para pencinta keluarga suci Nabi Muhammad SAW dari pelbagai mazhab. Kehadirannya tidak sekadar menambah ragam pergerakan, tetapi membawa misi pencerahan pemikiran serta pemberdayaan masyarakat. Seluruh arah pergerakan organisasi ini dirumuskan secara padu dalam lima pilar IJABI yang memadukan kedalaman spiritual, kejelasan nalar, dan keberpihakan sosial.
Pilar pertama dan kedua menegaskan komitmen terhadap Islam yang rasional dan spiritual, serta prinsip nonsektarianisme yang mendahulukan akhlak di atas fikih. Dalam kaji pemikiran yang diusung Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat, perbedaan fikih sering kali timbul akibat perbedaan penafsiran nash, periwayatan hadis, maupun prosedur ushul fiqh. Perbedaan semacam ini semestinya menjadi kekayaan khazanah intelektual, bukan benih perselisihan. Sejarah klasik mencatat betapa para ulama mazhab saling menghormati dan menimba ilmu. Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi, pernah berguru selama dua tahun kepada Imam Ja’far ash-Shadiq, sebagaimana Imam Malik juga memuji keutamaan dan kedalaman ilmu sang imam. Dengan mendahulukan akhlak mulia daripada klaim kebenaran sepihak, pilar ini mengajak umat Islam untuk beragama secara matang, toleran, dan tidak mudah mengafirkan kelompok lain.

Selanjutnya, pilar ketiga dan keempat menekankan nilai Islam pluralis serta Islam madani. Para pendiri menyadari betul bahwa Indonesia adalah negeri dengan keanekaragaman suku, budaya, dan keyakinan yang tak terpisahkan. Keberagaman tersebut dipandang sebagai takdir sejarah yang wajib dijaga dengan keadaban publik. Di tengah dinamika sosial pasca-reformasi, IJABI menegaskan kembali komitmen kebangsaannya dengan bekerja sama bersama Dewan Pertahanan Nasional (WANTANAS) dalam penyelenggaraan seminar dan lokakarya nasional bertema Pancasila sebagai modus vivendi berbangsa dan bernegara. Melalui pendekatan kultural ini, kebebasan berpikir, penghormatan atas hak sesama warga, dan tradisi musyawarah ditempatkan sebagai pilar tatanan masyarakat madani yang tangguh menghadapi ancaman radikalisme.
Pilar kelima menjadi pendorong utama aksi kemanusiaan organisasi, yaitu pembelaan terhadap kaum mustadh’afin atau kelompok yang tertindas. Prinsip ini diwujudkan secara konkret melalui pengelolaan donasi dan beasiswa untuk menyokong sarana pendidikan seperti sekolah dan madrasah, pelayanan kesehatan melalui klinik, serta aneka program pemberdayaan warga. Secara metodologis, statistik menunjukkan bahwa keragaman di dalam satu kelompok sering kali lebih besar daripada keragaman antarkelompok. Baik mazhab Sunni seperti Syafi’i, Hanafi, Hambali, dan Maliki, maupun mazhab Syi’ah seperti Ja’fari dan Zaidi, pada hakikatnya bertumpu pada kalimat tauhid dan penghormatan kepada Rasulullah SAW yang sama. Karena itu, energi umat seharusnya dialirkan untuk mengentaskan ketimpangan sosial dan membela kaum lemah.

Demi mengaktualisasikan gagasan ini dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, ada dua langkah nyata yang dapat ditempuh oleh warga maupun lembaga komunitas. Pertama, memperluas ruang dialog interaktif antarwarga lintas kelompok keagamaan dengan memfokuskan perjumpaan pada kesamaan nilai akhlak dan kemanusiaan, ketimbang memperdebatkan perbedaan hukum fikih yang bersifat cabang. Kedua, mengarahkan kepedulian sosial secara kolektif dengan bergotong royong menyokong fasilitas umum setempat, seperti membantu operasional madrasah, sekolah, atau klinik kesehatan warga rentan. Melalui penerapan lima pilar IJABI ini, keberagamaan tidak hanya hadir dalam ranah wacana, melainkan menjelma sebagai pengabdi kemanusiaan yang nyata di tengah masyarakat Indonesia.
Sumber dan basis data
- Deklarasi pendirian IJABI pada 1 Juli 2000 di Gedung Asia Afrika Bandung menurut profil resmi ormas IJABI
- Kepemimpinan awal oleh Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat sebagai Ketua Dewan Syura dan DR. Ir. Dimitri Mahayana sebagai Ketua Umum Tanfidziyah menurut rujukan resmi IJABI
- Kerja sama IJABI dan WANTANAS dalam Seminar dan Lokakarya Nasional tentang Pancasila sebagai modus vivendi menurut situs IJABI
- Program donasi dan beasiswa untuk sekolah, madrasah, dan klinik menurut rujukan situs JalanRahmat dan IJABI


