Uncategorize

KARBALA, HIJRAH, DAN JEJAK WARISAN: Menjemput Amanah dari Para Pendahulu

Penulis : K.H. Fajruddin Muchtar, Lc (Ketua Departemen Khidmat dan Seni Budaya)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kita berkumpul di sini dalam sebuah majelis yang melintasi dimensi waktu. Kita bicara tentang Karbala, tentang Hijrah, dan hari ini, hati kita bertaut pada dua sosok yang telah mendahului kita: KH. Muchtar Adam dan Hj. Siti Sukaesih.

Jika kita membaca sejarah dengan kacamata Ali Shariati, kita tidak akan menemukan peristiwa yang terisolasi. Hijrah, Karbala, dan perjuangan para guru kita adalah satu garis lurus. Shariati pernah berkata, “Tugas kita bukan sekadar mengenang sejarah, tapi menjadi kelanjutan dari sejarah itu sendiri.”

Hijrah adalah Keberangkatan dari “Status Quo” Hijrah Nabi bukanlah pelarian. Itu adalah keberanian untuk meninggalkan kenyamanan Makkah demi sebuah visi kemanusiaan yang lebih besar. KH. Muchtar Adam dan Hj. Siti Sukaesih, dalam langkah hidupnya, adalah para pengembara Hijrah. Mereka tidak memilih jalan yang mudah. Mereka memilih jalan dakwah—sebuah jalan yang menuntut mereka meninggalkan zona aman untuk membangun peradaban di tengah masyarakat yang seringkali masih terbelenggu kebodohan dan ketidakadilan.

Ketika mereka mendirikan institusi ini, itu adalah Hijrah. Mereka tidak sekadar membangun bangunan, mereka membangun “jiwa”. Mereka memindahkan cahaya risalah dari satu titik ke titik lainnya, persis seperti Rasulullah yang membawa ruh Islam dari Makkah ke Madinah.

Karbala: Puncak Perjuangan yang Membawa Keluarga Lalu, mengapa Imam Husain membawa keluarganya ke Karbala? Dalam kacamata sosiologi agama Shariati, Husain tidak membawa keluarga sebagai objek penderita. Beliau membawa “peradaban” dalam bentuk manusia. Husain membawa Fatimah, membawa anak-anaknya, agar perjuangan ini tidak kehilangan ruh kemanusiaan. Karbala adalah bukti bahwa perjuangan sejati tidak dilakukan sendirian. Perjuangan adalah sebuah orkestra nilai yang harus diwariskan kepada anak cucu agar tidak terputus.

KH. Muchtar Adam dan Hj. Siti Sukaesih melakukan hal yang sama. Mereka tidak berjuang sendirian. Mereka mewariskan “Karbala” mereka—yaitu perjuangan untuk menjaga nilai, menjaga amanah, dan menjaga institusi—kepada kita semua. Mereka membawa keluarga dan umat dalam perjalanan panjang perjuangan ini, agar setelah mereka tiada, ruh itu tidak mati.

Dialektika Pengorbanan Hadirin, Karbala adalah cermin bagi kita. Shariati bertanya, “Jika engkau tidak ada di Karbala bersama Husain, di mana engkau saat ini?”

Tentu kita tidak diminta untuk tumpah darah di padang sahara. Tapi kita diminta untuk berkorban di “Karbala” kita masing-masing. KH. Muchtar Adam telah memberikan contoh bagaimana seorang pemimpin tetap tegak di atas prinsip meskipun dunia menggoda. Hj. Siti Sukaesih telah menunjukkan bagaimana keteguhan seorang ibu menjadi fondasi bagi kokohnya sebuah gerakan. Mereka telah “berhijrah” dari ego pribadi menuju pengabdian total kepada umat.

Apakah kita sudah berhijrah dari ego kita? Apakah kita sudah berani berkorban untuk kepentingan yang lebih besar, atau kita masih sibuk dengan kepentingan diri sendiri?

Menyambung Mata Rantai Maka, majelis haul ini bukanlah tempat untuk bernostalgia. Ini adalah tempat untuk “Baiat”. Jika Imam Husain di Karbala menyeru, “Adakah yang akan menolongku?” — maka hari ini, di majelis ini, KH. Muchtar Adam dan Hj. Siti Sukaesih sedang bertanya kepada kita melalui jejak-jejak amal mereka: “Adakah yang akan melanjutkan amanah ini?”

Kita adalah penjaga amanah itu. Hijrah yang dimulai oleh Nabi, diperjuangkan oleh Husain dengan darahnya, kini sampai ke tangan kita melalui para guru kita. Jika kita berhenti berjuang, maka kita sedang mengkhianati Hijrah Nabi. Jika kita takut untuk berkorban, maka kita sedang membiarkan Karbala hanya menjadi tontonan, bukan menjadi sekolah perlawanan.

Hadirin, Dunia modern mencoba membelenggu kita dengan individualisme yang mematikan. Tapi lihatlah guru-guru kita; mereka tidak pernah memikirkan diri sendiri. Mereka menghabiskan waktu, pikiran, dan tenaga untuk memastikan bahwa setelah mereka pergi, akan ada generasi yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih teguh memegang amanah.

Jangan biarkan api yang mereka nyalakan padam. Jangan biarkan perjuangan mereka menjadi sejarah yang terlupakan. Jadikan Haul ini sebagai momen untuk menguatkan langkah. Kita harus menjadi “Zainab” masa kini yang menyuarakan kebenaran, dan menjadi “Husain” masa kini yang berani memikul tanggung jawab besar di pundak kita.

Mari kita tutup majelis ini dengan sebuah komitmen: Bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa Hijrah terus berlanjut. Bahwa setiap tempat adalah Karbala, dan setiap hari adalah Asyura bagi mereka yang ingin merdeka.

Labbaik ya Husain! Alfatihah untuk KH. Muchtar Adam dan Hj. Siti Sukaesih.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga cahaya yang telah mereka titipkan.

Bandung, 10 Muharram 1447 Fajar

K.H. Fajruddin Muchtar, Lc, Ketua Departemen Khidmat dan Seni Budaya

Fajruddin Muchtar Lc.
Perkhidmatan, Seni dan Budaya IJABI |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button