Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati

Di zaman ketika orang berlomba memperbaiki dunia, Kang Jalal justru mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya, sudahkah kita memperbaiki hati?
Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun di situlah sesungguhnya seluruh bangunan pemikiran tasawuf KH. Jalaluddin Rakhmat berdiri. Beliau meyakini bahwa perubahan masyarakat tidak pernah lahir dari kebencian, tidak pula dari banyaknya perdebatan. Perubahan selalu dimulai dari manusia. Dan perubahan manusia selalu dimulai dari hati.
Pandangan inilah yang mengantar seorang peneliti menjadikan Kang Jalal sebagai objek kajian dalam sebuah tesis berjudul Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat. Penelitian tersebut tidak lahir untuk menghakimi atau menempelkan identitas mazhab kepada Kang Jalal. Sebaliknya, penulis tesis ingin memahami satu hal yang lebih mendasar: mengapa hampir seluruh karya tasawuf Kang Jalal selalu berbicara tentang penyucian jiwa, cinta kepada Allah, akhlak, doa, dan perjalanan ruhani? Mengapa tema-tema itu begitu dominan sehingga membentuk corak spiritual yang khas dalam pemikiran beliau?
Pertanyaan itu membawa kita kepada sebuah istilah yang sering disalahpahami: Tasawuf Syi’i.
⸻
Selama ini, ketika mendengar kata Syi’i, sebagian orang langsung membayangkan perbedaan mazhab, sejarah politik, bahkan konflik yang berlangsung berabad-abad. Padahal, dalam tesis ini istilah Tasawuf Syi’i tidak ditempatkan pada wilayah polemik. Penulis menggunakannya sebagai istilah akademik untuk menjelaskan sebuah tradisi spiritual yang berkembang dalam khazanah Islam dan memiliki karakter tertentu dalam memahami perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Sebelum sampai ke sana, penulis terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan tasawuf.
Ia mengutip Fazlur Rahman yang melihat tasawuf sebagai gerakan pemurnian moral. Tasawuf lahir ketika sebagian umat Islam merasa bahwa kehidupan keagamaan mulai terlalu sibuk mengurus urusan dunia, sementara dimensi batin perlahan terabaikan. Karena itu, tasawuf mengajak manusia kembali kepada keikhlasan, ketakwaan, dan kesadaran bahwa hubungan dengan Allah harus menjadi pusat kehidupan. Akar-akar tasawuf sendiri, menurut Fazlur Rahman, tidak berada di luar Islam, melainkan tumbuh dari ajaran Al-Qur’an tentang iman, ikhlas, dan takwa.
Pandangan inilah yang kemudian menjadi pintu masuk Kang Jalal.
Beliau tidak pernah memandang tasawuf sebagai jalan yang terpisah dari Al-Qur’an dan Sunnah. Justru sebaliknya. Dalam berbagai tulisannya yang dikaji dalam tesis ini, Kang Jalal berulang kali menunjukkan bahwa tasawuf adalah usaha membersihkan diri dengan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah secara lebih mendalam. Ia bukan tambahan di luar agama, tetapi dimensi terdalam dari agama itu sendiri. BAB IV.pdf
Karena itu, menurut Kang Jalal, tasawuf tidak cukup dipahami sebagai pengalaman mistik atau latihan-latihan spiritual yang hanya dinikmati segelintir orang. Tasawuf harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia harus tampak pada cara seseorang berbicara, bersikap, memperlakukan orang lain, dan menghadapi setiap ujian kehidupan.
Di sinilah letak keunikan pemikiran beliau.
⸻
Dalam tesis ini dijelaskan bahwa Kang Jalal membagi tasawuf ke dalam tiga wajah besar.
Yang pertama adalah tasawuf sebagai madzhab akhlak.
Bagi Kang Jalal, inilah fondasi seluruh perjalanan spiritual. Tasawuf mengajarkan akhlak, tetapi bukan hanya akhlak lahiriah yang mudah dilihat orang lain. Yang lebih penting adalah akhlak batin, yaitu proses panjang membersihkan hati dari kesombongan, iri hati, dengki, riya, cinta dunia, dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Seluruh proses itu dikenal dalam tradisi Islam sebagai tazkiyatun nafs, penyucian jiwa.
Perhatikan cara Kang Jalal memulainya.
Beliau tidak berkata, “Kenalilah Allah terlebih dahulu.”
Beliau juga tidak berkata, “Carilah pengalaman-pengalaman ruhani.”
Beliau justru berkata, bersihkan dahulu hatimu.
Karena hati yang masih dipenuhi kesombongan tidak akan mampu menerima cahaya petunjuk.
Hati yang dipenuhi kebencian tidak akan mampu merasakan kasih sayang Allah.
Dan hati yang dipenuhi keinginan untuk selalu merasa benar tidak akan pernah mampu belajar dengan rendah hati.
Di sinilah tasawuf berubah menjadi sebuah revolusi.
Bukan revolusi politik.
Bukan revolusi sosial.
Tetapi revolusi batin.
⸻
Setelah akhlak, Kang Jalal berbicara tentang tasawuf sebagai madzhab makrifat.
Makrifat bukanlah pengetahuan yang diperoleh melalui membaca buku semata. Dalam penjelasan Kang Jalal yang dikutip penulis tesis, makrifat adalah pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada hati yang telah dibersihkan. Tradisi tasawuf mengenalnya sebagai ilmu laduni atau ilmu hudhuri, yakni pengetahuan yang lahir dari kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Artinya, belajar tetap penting.
Berpikir tetap penting.
Tetapi semua itu belum cukup.
Ilmu yang hanya memenuhi kepala belum tentu mengubah manusia.
Ilmu baru menjadi cahaya ketika ia turun ke dalam hati.
Dan ketika ilmu telah menjadi cahaya, ia melahirkan akhlak.
⸻
Puncak perjalanan itu disebut Kang Jalal sebagai tasawuf madzhab hakikat.
Pada tahap ini, seorang hamba tidak lagi menjadikan Allah sekadar objek ibadah. Allah menjadi tujuan hidupnya. Seluruh perjalanan, seluruh kerinduan, seluruh harapan, seluruh cinta, akhirnya bermuara kepada-Nya. Seorang sufi berusaha melepaskan sifat-sifat rendah dalam dirinya agar semakin memantulkan sifat-sifat Allah berupa kasih sayang, keadilan, kelembutan, dan kebijaksanaan.
Bagi Kang Jalal, inilah makna terdalam tasawuf.
Tasawuf bukan meninggalkan dunia.
Tasawuf adalah menjalani dunia dengan hati yang telah berubah.
Bukan semakin jauh dari manusia.
Tetapi justru semakin dekat kepada manusia karena semakin dekat kepada Allah.
Dan di sinilah penulis tesis mulai menemukan alasan mengapa pemikiran Kang Jalal memiliki kedekatan dengan tradisi yang disebutnya sebagai Tasawuf Syi’i. Bukan karena persoalan identitas, melainkan karena penekanan yang sangat kuat pada penyucian jiwa, pendidikan akhlak, makrifat, dan perjalanan ruhani menuju Allah. Itulah fondasi yang akan dibangun lebih jauh dalam pembahasan-pembahasan berikutnya.
Kalau harus memilih satu kata yang paling sering muncul dalam perjalanan spiritual seorang sufi, mungkin jawabannya adalah taubat.
Tetapi Kang Jalal mengajak kita berhenti sejenak sebelum mengucapkan kata itu.
Apakah taubat hanya berarti menyesali dosa?
Apakah cukup seseorang menangis, lalu selesai?
Atau ada sesuatu yang jauh lebih dalam?
Dalam pembacaan Kang Jalal, taubat bukan sekadar penyesalan emosional. Taubat adalah gerakan pulang. Pulang dari kehidupan yang menjauh dari Allah menuju kehidupan yang semakin mendekat kepada-Nya. Karena itu, beliau mengingatkan bahwa dalam kitab Manazil al-Sairin, taubat bukan tujuan akhir perjalanan ruhani, melainkan salah satu maqam, satu tahapan yang harus dilalui sebelum seorang hamba naik kepada tahapan berikutnya seperti muhasabah dan inabah. Artinya, taubat adalah awal perubahan, bukan akhir perubahan.
Di sinilah Kang Jalal membuat pembedaan yang sangat menarik antara taubat dan istighfar.
Menurut beliau, keduanya sering diucapkan bersamaan, tetapi tidak berarti sama.
Taubat berarti kembali. Kembali meninggalkan jalan yang salah menuju jalan yang diridhai Allah. Sementara istighfar berarti memohon agar Allah menutupi akibat-akibat dari dosa yang pernah dilakukan. Kang Jalal menjelaskan bahwa setiap dosa meninggalkan jejak. Ada dosa yang memutus silaturahmi, ada yang menyempitkan rezeki, ada pula yang menghadirkan berbagai kesulitan dalam kehidupan. Karena itu, seseorang bukan hanya diminta berhenti dari dosanya, tetapi juga memohon agar Allah SWT menghapus akibat yang ditinggalkan dosa tersebut.
Penjelasan ini membuat taubat tidak lagi berhenti pada hubungan pribadi antara manusia dan Tuhannya.
Ia juga menyentuh hubungan manusia dengan sesamanya.
Kang Jalal memberi contoh yang sangat sederhana. Orang yang memutus tali silaturahmi mungkin telah menyesal dan berhenti bertengkar. Namun luka yang ditinggalkan pertengkaran itu belum tentu sembuh. Hubungan yang retak belum tentu kembali utuh. Karena itu, taubat harus disertai usaha memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan. Di sinilah istighfar menjadi doa agar Allah SWT menolong manusia memulihkan apa yang telah dirusaknya.
Cara berpikir seperti ini menunjukkan bahwa tasawuf Kang Jalal bukan tasawuf yang hanya sibuk mengurus batin.
Tasawuf harus tampak dalam kehidupan nyata.
Kalau seseorang pernah menyakiti orang lain, maka taubat menuntut keberanian untuk meminta maaf.
Kalau seseorang pernah berlaku zalim, maka taubat menuntut keberanian mengembalikan hak orang lain.
Kalau seseorang pernah menebarkan fitnah, maka taubat mengharuskannya menghentikan fitnah itu dan memulihkan nama baik yang telah dirusaknya.
Tasawuf, dalam pandangan Kang Jalal, tidak pernah membiarkan manusia berhenti pada penyesalan.
Tasawuf selalu mendorong manusia menuju perubahan.
⸻
Dari sini perjalanan ruhani bergerak kepada sesuatu yang lebih dalam lagi.
Bagaimana sebenarnya seorang hamba memandang Allah?
Kang Jalal menjelaskan bahwa Al-Qur’an memperkenalkan Allah melalui banyak nama yang indah, Asmaul Husna. Dari nama-nama itu, para sufi kemudian melihat adanya dua dimensi besar dalam cara manusia mengenal Tuhannya.
Dimensi pertama disebut jalaliyyah.
Dimensi ini memperlihatkan Allah sebagai Tuhan Yang Mahabesar, Mahaperkasa, Mahaadil, dan Mahakuasa. Ketika manusia memandang Allah melalui dimensi ini, yang tumbuh di dalam hatinya adalah rasa takut, rasa hormat, dan kesadaran akan kebesaran-Nya.
Namun Al-Qur’an tidak berhenti di sana.
Allah juga memperkenalkan diri-Nya melalui sifat-sifat kasih sayang, kelembutan, ampunan, dan cinta.
Dimensi inilah yang disebut jamaliyyah.
Dalam pandangan Kang Jalal, justru nama-nama Allah yang menunjukkan kasih sayang jauh lebih banyak daripada nama-nama yang menunjukkan kemurkaan-Nya. Beliau mengutip pandangan para sufi bahwa hal itu menjadi isyarat betapa luas rahmat Allah dibandingkan murka-Nya.
Tetapi Kang Jalal tidak memilih salah satunya.
Beliau tidak mengajarkan agama yang hanya dipenuhi rasa takut.
Beliau juga tidak mengajarkan agama yang hanya dipenuhi rasa aman.
Beliau mengajarkan keseimbangan.
Kalau manusia hanya mengenal Allah melalui jalaliyyah-Nya, agama akan berubah menjadi kumpulan ancaman. Orang beribadah karena takut dihukum. Yang tumbuh bukan cinta, melainkan kecemasan.
Sebaliknya, kalau manusia hanya mengenal Allah melalui jamaliyyah-Nya, ia bisa terjebak meremehkan dosa. Ia merasa Allah pasti mengampuni apa pun yang dilakukannya, sehingga kehilangan kesungguhan dalam memperbaiki diri.
Karena itu, menurut Kang Jalal, perjalanan menuju Allah harus selalu berjalan di antara dua sayap: khauf dan mahabbah, rasa takut dan rasa cinta. Seorang hamba takut kehilangan Allah, tetapi pada saat yang sama ia juga mencintai Allah dengan seluruh jiwanya.
Keseimbangan inilah yang membuat tasawuf Kang Jalal terasa sangat manusiawi.
Beliau tidak mengajak orang hidup dalam ketakutan.
Beliau juga tidak membius orang dengan harapan kosong.
Beliau mengajak manusia mengenal Allah sebagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri: Mahaperkasa sekaligus Maha Pengasih, Mahaadil sekaligus Maha Penyayang.
Di sinilah perjalanan tasawuf mulai menemukan wajahnya.
Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar bahwa seluruh hidupnya bergantung kepada kasih sayang-Nya.
Dan semakin ia menyadari kasih sayang itu, semakin besar pula keinginannya untuk memperbaiki dirinya.
Karena pada akhirnya, tasawuf bukanlah perjalanan mencari pengalaman-pengalaman luar biasa.
Tasawuf adalah perjalanan agar manusia menjadi lebih jujur, lebih rendah hati, lebih penyayang, dan lebih dekat kepada Allah setiap hari.
Semua agama mengajarkan manusia untuk berubah. Tetapi perubahan itu selalu dimulai dari satu tempat yang sama.
Bukan dari tangan.
Bukan dari lisan.
Bukan pula dari pikiran.
Melainkan dari hati.
Karena itulah, ketika menjelaskan tasawuf, Kang Jalal tidak langsung berbicara tentang wirid, zikir, atau khalwat. Beliau lebih dahulu mengajak kita memahami siapa diri kita sendiri. Sebab seseorang tidak akan mampu berjalan menuju Allah apabila ia tidak mengenal medan perjalanan yang ada di dalam dirinya.
Dalam pembahasan ini, Kang Jalal banyak merujuk kepada Imam Al-Ghazali. Penulis tesis menunjukkan bahwa menurut Al-Ghazali, istilah qalb, ruh, akal, dan nafs sering dipahami seolah-olah berbeda sama sekali. Padahal, pada tingkat tertentu keempat istilah itu saling berkaitan dan menjelaskan dimensi batin manusia. Kang Jalal kemudian menjelaskan kembali konsep tersebut dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Beliau memulai dari qalb.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menerjemahkan qalb sebagai hati. Namun Kang Jalal menjelaskan bahwa dalam khazanah tasawuf, qalb mempunyai dua pengertian. Pertama adalah jantung sebagai organ fisik yang memompa darah ke seluruh tubuh. Kedua adalah hati dalam pengertian ruhani, yaitu pusat kesadaran manusia, tempat lahirnya cinta, keikhlasan, ketakutan, harapan, dan seluruh keputusan moral. Hati inilah yang menentukan baik buruknya seluruh perilaku manusia. Karena itu Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila segumpal daging itu baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Kang Jalal mengajak pembaca memahami hadis ini bukan hanya secara biologis, tetapi terutama secara spiritual.
Dari sinilah tasawuf mulai menemukan maknanya.
Selama ini manusia begitu sibuk memperbaiki penampilannya.
Ia belajar berbicara.
Belajar memimpin.
Belajar mencari harta.
Belajar mengumpulkan ilmu.
Tetapi berapa banyak yang sungguh-sungguh belajar membersihkan hati?
Padahal, menurut Kang Jalal, hati adalah tempat pertama yang dipandang Allah.
⸻
Sesudah qalb, Kang Jalal mengajak kita memahami ruh.
Beliau menjelaskan bahwa ruh juga mempunyai dua pengertian. Ada ruh yang berkaitan dengan kehidupan jasmani, dan ada ruh sebagai dimensi ruhani yang menjadi pusat kesadaran manusia. Dalam pengertian kedua inilah ruh hampir tidak dapat dipisahkan dari qalb. Ruh merasakan kebahagiaan, penderitaan, kerinduan, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah. Ruh bukan sesuatu yang dapat dilihat mata, tetapi pengaruhnya menentukan seluruh arah kehidupan manusia.
Kemudian Kang Jalal berbicara tentang akal.
Menariknya, beliau tidak menempatkan akal sebagai lawan dari hati.
Sebaliknya, akal juga mempunyai dua makna. Pertama sebagai pengetahuan itu sendiri, dan kedua sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, akal bukanlah musuh tasawuf. Akal justru menjadi salah satu karunia Allah yang harus digunakan untuk mengenal-Nya. Tetapi akal mempunyai keterbatasan. Ada wilayah yang hanya dapat dimasuki apabila hati telah disucikan. Karena itu, dalam pandangan Kang Jalal, akal, hati, dan ruh tidak saling bertentangan. Ketiganya bekerja bersama dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Inilah salah satu keindahan pemikiran Kang Jalal.
Beliau tidak pernah mempertentangkan rasio dan spiritualitas.
Beliau adalah seorang akademisi yang sangat menghargai ilmu.
Tetapi beliau juga mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti di kepala.
Ilmu harus turun ke hati.
Sebab hanya ilmu yang sampai ke hati yang akan berubah menjadi hikmah.
⸻
Sesudah hati, ruh, dan akal, Kang Jalal membawa pembaca kepada lawan terbesar manusia.
Yaitu nafs.
Beliau menjelaskan bahwa kata nafs juga memiliki beberapa pengertian. Dalam satu sisi, nafs berarti keseluruhan diri manusia. Namun dalam pengertian lain, nafs adalah dorongan-dorongan yang dapat menyeret manusia menjauh dari Allah. Karena itu Al-Qur’an memperkenalkan tiga tingkatan nafs yang juga menjadi tahapan perjalanan spiritual manusia.
Yang pertama adalah nafs ammarah.
Inilah jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan. Ia tunduk kepada hawa nafsu, amarah, dan syahwat. Pada tahap ini manusia mudah dikuasai keinginan sesaat. Yang penting dirinya senang, meskipun harus melukai orang lain.
Tetapi manusia tidak harus berhenti di sana.
Ketika seseorang mulai sadar bahwa dirinya salah, mulai menyesali perbuatannya, dan mulai mengadili dirinya sendiri, ia memasuki tingkat kedua yang disebut nafs lawwamah. Kang Jalal menjelaskan bahwa pada tahap ini hati nurani mulai hidup. Manusia mulai merasa gelisah setiap kali melakukan keburukan. Ia mulai mendengar suara batinnya sendiri. Namun suara itu baru mampu menegur. Ia belum tentu mampu mengubah manusia apabila tidak diikuti kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Perjalanan itu mencapai puncaknya ketika seorang hamba memperoleh nafs muthma’innah.
Inilah jiwa yang tenang.
Jiwa yang telah berdamai dengan kehendak Allah.
Jiwa yang tidak lagi diperbudak oleh hawa nafsu.
Jiwa yang kelak dipanggil dengan penuh kasih:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai.”
Ayat ini, dalam pembacaan Kang Jalal, bukan sekadar janji untuk kehidupan akhirat. Ia adalah tujuan seluruh perjalanan tasawuf. Semua latihan, semua taubat, semua muhasabah, semua munajat, semuanya bermuara pada lahirnya jiwa yang tenang karena hidupnya sepenuhnya bersandar kepada Allah.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa penulis tesis melihat adanya corak Tasawuf Syi’i dalam pemikiran Kang Jalal.
Bukan karena beliau sibuk membahas identitas mazhab.
Tetapi karena seluruh perjalanan spiritual yang beliau bangun selalu bergerak dari penyucian jiwa menuju makrifat, dan dari makrifat menuju akhlak yang semakin menyerupai teladan Rasulullah dan Ahlulbait. Yang dicari bukan kemenangan dalam perdebatan, melainkan kemenangan atas hawa nafsu sendiri. Dan kemenangan terbesar itu tidak pernah terjadi di luar diri manusia.
Ia selalu dimulai dari hati
Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan
Kalau ada satu bulan yang paling sering dibicarakan Kang Jalal ketika menjelaskan tasawuf, bulan itu adalah Ramadhan.
Tetapi Ramadhan, dalam pandangan beliau, bukan sekadar bulan untuk memperbanyak ibadah.
Ramadhan adalah madrasah ruhani.
Sekolah tempat manusia belajar mengendalikan dirinya.
Selama sebulan penuh manusia dilatih menahan lapar, haus, kemarahan, hawa nafsu, dan keinginan-keinginan yang selama ini begitu mudah dipenuhi. Semua latihan itu, menurut Kang Jalal, bukan bertujuan agar manusia menjadi kuat menahan lapar. Tujuannya jauh lebih besar, yaitu agar manusia mampu mengendalikan dirinya ketika Ramadhan telah berlalu. Karena itu beliau mengutip doa Imam Ali Zainal Abidin yang mengucapkan salam perpisahan kepada Ramadhan dengan penuh haru. Bagi para pecinta Allah, Ramadhan bukan sekadar tamu tahunan, melainkan sahabat yang membantu mereka mendekat kepada Tuhan.
Kang Jalal mengingatkan, ujian seorang Muslim justru dimulai setelah Idulfitri.
Apakah hati yang telah dibersihkan selama Ramadhan akan tetap terjaga?
Apakah Al-Qur’an yang selama Ramadhan dibaca setiap hari akan tetap menemani kehidupan?
Apakah lidah yang selama Ramadhan dijaga dari dusta akan kembali digunakan untuk menyakiti orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan bahwa bagi Kang Jalal, Ramadhan bukan garis akhir, tetapi awal dari perjalanan panjang penyucian jiwa. Tasawuf tidak selesai pada bulan suci. Tasawuf baru dimulai ketika manusia kembali memasuki kehidupan sehari-hari.
⸻
Di sinilah perjalanan ruhani mencapai puncaknya.
Setelah seseorang belajar bertaubat.
Setelah ia membersihkan hati.
Setelah ia mengenal Allah melalui sifat-sifat keagungan dan kasih sayang-Nya.
Setelah ia berjuang melawan hawa nafsunya.
Apa yang tersisa?
Doa.
Dalam pembacaan Kang Jalal, munajat bukan sekadar rangkaian kalimat yang dibaca dengan suara lirih. Munajat adalah percakapan paling jujur antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada lagi kepura-puraan. Tidak ada lagi topeng kesalehan. Yang ada hanyalah seorang manusia yang menyadari kelemahannya, mengakui dosanya, lalu mengetuk pintu kasih sayang Allah dengan penuh harapan. Karena itu Kang Jalal banyak menghadirkan munajat-munajat Ahlulbait, terutama doa-doa Imam Ali Zainal Abidin, sebagai sekolah ruhani bagi siapa pun yang ingin belajar merendahkan diri di hadapan Allah.
Membaca munajat-munajat itu, kita menemukan nada yang selalu sama.
Bukan rasa bangga karena banyak beribadah.
Bukan rasa yakin bahwa dirinya telah menjadi orang saleh.
Yang terdengar justru kerendahan hati.
“Jika Engkau mengusirku dari pintu-Mu, kepada siapa lagi aku harus pergi?”
“Aku datang membawa dosa-dosaku di hadapan-Mu.”
“Jangan jauhkan aku dari kasih sayang-Mu.”
Doa-doa seperti ini, menurut Kang Jalal, bukan lahir dari orang yang putus asa. Justru sebaliknya. Ia lahir dari orang yang sangat mengenal keluasan rahmat Allah sehingga berani datang membawa seluruh kelemahannya tanpa menyembunyikan apa pun. Inilah yang membuat munajat menjadi puncak tasawuf. Ketika seluruh kesombongan telah gugur, yang tersisa hanyalah seorang hamba yang berharap kepada Tuhannya. BAB IV.pdf
⸻
Membaca keseluruhan bab ini, kita mulai memahami mengapa penulis tesis memilih judul Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat.
Yang ia temukan bukan sekadar penggunaan istilah-istilah tasawuf.
Ia menemukan sebuah bangunan pemikiran yang utuh.
Tasawuf dimulai dengan taubat.
Dilanjutkan dengan penyucian jiwa.
Diterangi oleh makrifat.
Diseimbangkan antara jalaliyyah dan jamaliyyah, antara rasa takut dan rasa cinta kepada Allah.
Perjalanan itu berlangsung di dalam qalb, hati yang terus dibersihkan dari penyakit-penyakit batin, sambil menaklukkan nafs yang selalu mengajak kepada keburukan.
Perjalanan itu kemudian dilatih melalui madrasah Ramadhan, sebelum akhirnya bermuara pada munajat, ketika seorang hamba tidak lagi memiliki apa pun selain harapan kepada kasih sayang Allah. Seluruh bangunan inilah yang, menurut penulis tesis, memperlihatkan karakteristik tasawuf yang banyak berkembang dalam tradisi spiritual Ahlulbait dan menjadi corak penting dalam karya-karya Kang Jalal.
Namun, barangkali warisan terbesar Kang Jalal bukanlah istilah-istilah tasawuf itu sendiri.
Warisan terbesarnya adalah cara beliau mengembalikan agama kepada manusia.
Beliau tidak mengajak orang mengejar pengalaman-pengalaman yang luar biasa.
Beliau mengajak orang menjadi lebih jujur.
Lebih sabar.
Lebih lembut.
Lebih mudah memaafkan.
Lebih ringan menolong.
Lebih bersih hatinya.
Karena bagi Kang Jalal, jalan menuju Allah tidak pernah dimulai dari kaki.
Ia selalu dimulai dari hati.
⸻
Karya Kang Jalal yang Dibaca
- Tasawuf dalam Al-Qur’an dan Sunnah
- Meraih Cinta Ilahi
- Madrasah Ruhaniah
- Rintihan Suci Ahlulbait Nabi
- The Road to Allah
Pijakan Akademik
Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat, tesis yang mengkaji bangunan pemikiran tasawuf KH. Jalaluddin Rakhmat melalui konsep taubat, tazkiyatun nafs, jalaliyyah dan jamaliyyah, qalb, ruh, akal, nafs, Ramadhan sebagai madrasah ruhani, serta munajat sebagai puncak perjalanan spiritual.
Penutup
Mungkin, selama ini kita terlalu jauh berjalan.
Kita sibuk menghitung berapa banyak ayat yang telah kita hafal, tetapi lupa menghitung berapa banyak hati yang pernah kita lukai.
Kita begitu bersemangat memperdebatkan mazhab, tetapi jarang bertanya apakah perdebatan itu membuat kita semakin dekat kepada Allah.
Kita bangga menunjukkan identitas keagamaan, tetapi sering gagal menunjukkan akhlak yang diajarkan agama.
Di sinilah Kang Jalal mengajak kita berhenti sejenak.
Beliau tidak mengajak kita memulai dari perdebatan.
Beliau mengajak kita pulang.
Pulang kepada hati.
Sebab hati adalah tempat pertama yang disentuh wahyu.
Di sanalah iman bertumbuh.
Di sanalah keikhlasan dilahirkan.
Di sanalah kesombongan harus dikalahkan.
Dan di sanalah cinta kepada Allah menemukan rumahnya.
Itulah sebabnya, ketika membaca karya-karya Kang Jalal, kita hampir tidak pernah menemukan tasawuf yang sibuk membicarakan keajaiban-keajaiban spiritual. Beliau justru lebih sering berbicara tentang memaafkan, menyayangi, menolong, menangis karena dosa, mencintai Rasulullah, mencintai Ahlulbait, dan membangun akhlak yang mulia. Semua itu, dalam pembacaan penulis tesis, menjadi bangunan tasawuf yang memiliki karakteristik tradisi spiritual Syi’i. Namun yang diwariskan Kang Jalal bukanlah semangat memberi label kepada manusia, melainkan semangat menyucikan manusia.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah,
“Apakah tasawuf Kang Jalal bercorak Syi’i?”
Pertanyaan itu penting bagi penelitian.
Tetapi bagi kehidupan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apakah setelah membaca Kang Jalal, hati kita menjadi lebih bersih daripada sebelumnya?
Apakah kita lebih mudah meminta maaf?
Lebih mudah memaafkan?
Lebih lembut kepada keluarga?
Lebih jujur dalam bekerja?
Lebih sabar menghadapi ujian?
Lebih ringan menolong orang yang membutuhkan?
Kalau jawabannya ya, mungkin di situlah tasawuf sedang bekerja.
Bukan di ruang diskusi.
Bukan di podium.
Bukan di dalam buku.
Melainkan di dalam hati.
Dan dari hati itulah, sebagaimana diyakini Kang Jalal, lahir semua perubahan besar.
Bukan revolusi yang dimulai dengan kemarahan.
Tetapi revolusi yang dimulai dengan penyucian jiwa.
Karena peradaban yang besar tidak pernah dibangun oleh tangan yang kuat semata.
Ia dibangun oleh hati yang bersih.



