Kegiatan

KATAJI Diluncurkan: Menanam Kemandirian, Merawat Bumi, Menguatkan Jamaah

KATAJI lahir dari kesadaran bahwa tanah dapat menjadi ruang ibadah, pertanian dapat menjadi jalan kemandirian, dan kerja bersama dapat menjadi kekuatan jamaah.

Semangat itulah yang mewarnai Sarasehan dan Peluncuran KATAJI—Keluarga Tani IJABI—yang berlangsung selama dua hari, 22–23 Agustus 2026. Sebanyak 25 peserta hadir dari berbagai daerah, yakni Sukabumi, Bogor, Yogyakarta, Magelang, Malang, serta Bandung Raya. Jarak yang mereka tempuh memperlihatkan besarnya harapan terhadap hadirnya sebuah wadah yang mempertemukan spiritualitas, pertanian, lingkungan hidup, dan pemberdayaan ekonomi.

Kegiatan dimulai dengan registrasi, pembukaan, serta penyampaian materi “Landasan Pergerakan KATAJI”. Dalam sesi ini ditegaskan bahwa KATAJI dibangun bukan hanya untuk mengembangkan kemampuan bercocok tanam. Lebih jauh, KATAJI diharapkan menjadi gerakan yang menumbuhkan kemandirian pangan dan ekonomi, memperkuat ukhuwah, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Nama KATAJI juga mengandung pesan penting. Dunia, sebagaimana diterangkan dalam pembekalan, bermula dari “kata”: kun fayakûn. Dari firman Allah lahirlah kehidupan. Karena itu, KATAJI diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah nama, tetapi menjadi kata yang bergerak—menjelma menjadi pengetahuan, kerja bersama, hasil pertanian, dan kemaslahatan.

Setelah pemaparan landasan gerakan, kegiatan dilanjutkan dengan bincang program. Para peserta mendiskusikan berbagai potensi yang dapat dikembangkan bersama, mulai dari pertanian organik, pengolahan pupuk dan pakan, pemanfaatan limbah rumah tangga, pengembangan produk kebutuhan sehari-hari, hingga pembentukan jejaring pemasaran antardaerah.

Diskusi berlangsung hangat karena para peserta datang dengan pengalaman dan kondisi wilayah yang berbeda. Keragaman itu justru menjadi kekuatan. KATAJI dapat menjadi ruang untuk bertukar pengetahuan, menghubungkan produsen dengan pasar, serta mempertemukan mereka yang memiliki lahan, keterampilan, teknologi, jaringan, dan semangat pengabdian.

Pertanian sebagai Tanggung Jawab Spiritual

Salah satu materi penting dalam sarasehan ini adalah pembahasan mengenai pertanian dan tanggung jawab manusia dari sisi spiritual. Tanah tidak dipandang semata-mata sebagai alat produksi, tetapi sebagai amanah Allah yang harus dirawat. Manusia memang diberi hak untuk mengambil manfaat dari alam, tetapi pada saat yang sama memikul kewajiban untuk menjaga kesuburan tanah, air, tumbuhan, hewan, dan keseimbangan kehidupan.

Dalam perspektif ini, bertani merupakan pekerjaan yang memiliki nilai spiritual. Menanam berarti menjaga keberlanjutan kehidupan. Menghasilkan pangan yang sehat berarti melindungi sesama. Menghindari kerusakan tanah dan penggunaan bahan berbahaya secara berlebihan merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi.

Pandangan tersebut menjadi dasar penting bagi arah pertanian KATAJI. Pertanian organik tidak hanya dipilih karena memiliki peluang ekonomi, tetapi juga karena sejalan dengan ikhtiar merawat bumi dan menyediakan pangan yang lebih baik bagi keluarga serta masyarakat.

Belajar Melalui Praktik

Sarasehan KATAJI tidak hanya diisi dengan ceramah dan diskusi. Para peserta juga mengikuti sejumlah kegiatan praktik agar pengetahuan yang diperoleh dapat langsung diterapkan di rumah dan daerah masing-masing.

Salah satu praktik yang menarik perhatian adalah pembuatan ember tumpuk. Teknologi sederhana ini dapat digunakan untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk cair dan kompos. Melalui ember tumpuk, sisa dapur yang biasanya dibuang dapat dikembalikan kepada tanah sebagai sumber kesuburan.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa gerakan pertanian tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas atau modal yang besar. Sebuah keluarga dapat memulainya dari dapur sendiri: memilah sampah, mengolah bahan organik, membuat pupuk, lalu menanam sayuran untuk kebutuhan rumah tangga.

Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai pembuatan pupuk, pengolahan pakan ayam, praktik pertanian lapangan, serta pembuatan sabun mandiri. Rangkaian kegiatan ini memperluas pengertian tentang kemandirian. Kemandirian bukan berarti melakukan segala sesuatu sendirian, melainkan membangun kemampuan untuk memenuhi sebagian kebutuhan melalui pengetahuan, pemanfaatan sumber daya lokal, dan kerja sama.

Dari Kebun Menuju Kemandirian Ekonomi

Pada hari kedua, setelah kuliah Subuh, kegiatan dilanjutkan dengan materi pertanian dan bisnis bersama Ibu Nina Sintarijana. Sesi ini menegaskan bahwa hasil pertanian yang baik memerlukan tata kelola usaha yang baik pula.

Petani tidak cukup hanya mampu menanam dan menghasilkan produk. Mereka juga perlu memahami kualitas, kontinuitas produksi, pengemasan, penentuan harga, pencatatan biaya, pemasaran, dan pembentukan jaringan konsumen. Tanpa pengelolaan yang baik, petani sering bekerja keras, tetapi memperoleh nilai ekonomi yang kecil.

iklan

Karena itu, KATAJI diarahkan menjadi ekosistem yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir: belajar menanam, mengolah hasil, membangun produk, memperkuat pemasaran, dan menciptakan pasar bersama. Produk yang dikembangkan tidak terbatas pada hasil kebun, tetapi dapat mencakup pupuk organik, pakan ternak, olahan pangan, serta kebutuhan rumah tangga yang ramah lingkungan.

Dalam ekosistem seperti ini, jamaah tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga dapat menjadi produsen, pengolah, pemasar, dan penggerak ekonomi komunitas. Pertanian kemudian menjadi pintu masuk menuju kedaulatan pangan sekaligus penguatan ekonomi keluarga.

Menanam Gerakan, Bukan Sekadar Tanaman

Peluncuran KATAJI menjadi penanda dimulainya sebuah perjalanan. Tantangan sesungguhnya muncul setelah para peserta kembali ke daerah masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh perlu dipraktikkan, pengalaman perlu dibagikan, dan jaringan yang telah terbentuk perlu terus dirawat.

KATAJI diharapkan tumbuh melalui kelompok-kelompok kecil yang aktif: mulai dari kebun rumah, pengolahan sampah organik, peternakan sederhana, produksi kebutuhan sehari-hari, hingga pengembangan usaha bersama. Keberhasilan gerakan ini tidak hanya diukur dari banyaknya tanaman yang tumbuh, tetapi juga dari bertambahnya keluarga yang mandiri, menguatnya kerja sama, terawatnya lingkungan, dan meluasnya manfaat bagi masyarakat.

Pertemuan peserta dari Sukabumi, Bogor, Yogyakarta, Magelang, Malang, dan Bandung Raya memberikan pesan bahwa kegelisahan terhadap persoalan pangan, kerusakan lingkungan, serta ketergantungan ekonomi dirasakan di banyak tempat. Namun, pertemuan ini juga memperlihatkan bahwa harapan dapat ditanam dan dipelihara bersama.

Sarasehan dan Peluncuran KATAJI akhirnya bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia merupakan ikhtiar untuk mempertemukan doa dengan kerja, kecintaan kepada Allah dengan kepedulian terhadap bumi, serta persaudaraan dengan kemandirian ekonomi.

Dari tanah, manusia belajar tentang kesabaran. Dari benih, manusia belajar tentang harapan. Dari kebun, manusia belajar bahwa hasil besar selalu bermula dari sesuatu yang kecil—ditanam dengan keyakinan, dirawat dengan pengetahuan, dan dibesarkan melalui kebersamaan.

KATAJI telah menanam benih pertamanya. Kini saatnya benih itu tumbuh di berbagai daerah, menjadi gerakan yang merawat bumi, menguatkan jamaah, dan menghadirkan keberkahan bagi semesta.

Admin IJABI
Reporter |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button