Uncategorize

Memoar Ziarah Ke Ra’sul Husein Kairo

(Disarikan dari Buku Khuruj KH. Muchtar Adam)

Sejarah Imam Husein bukanlah sekadar deretan angka tahun atau kronologi politik yang dingin. Ia adalah bara abadi dalam dada umat Islam, sebuah jejak luka yang tak pernah

kering sejak wafatnya Utsman bin Affan, yang mengalir melalui Perang Jamal, Shiffin, hingga Nahrawan. Namun, puncak dari segala kepedihan itu terkunci di padang Karbala. Di hamparan debu yang gersang, 73 jiwa mulia syahid di bawah terik matahari, menggenapkan pengorbanan cucu kesayangan Rasulullah SAW. Husein—cahaya mata Nabi—gugur setelah tubuh sucinya menanggung 33 tikaman dan 34 pukulan, sebuah tragedi keji yang digerakkan oleh tangan-tangan haus kuasa: Gubernur Kufah Ubaidillah bin Ziyad, atas perintah Khalifah Yazid bin Muawiyah. Sinan bin Anas pun mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai orang yang tega memenggal kepala sang cucu Nabi.

Sekilas Tentang Kesyahidan Imam Husein di Karbala

Tragedi ini bermula dari pengkhianatan janji. Imam Hasan, yang demi menjaga kedamaian umat rela melepaskan tampuk kekhalifahan kepada Muawiyah, akhirnya harus berpulang karena racun yang diselundupkan oleh mereka yang membencinya. Muawiyah, dalam kesombongan kuasanya, justru mengkhianati perjanjian damai dengan mengangkat putranya, Yazid, sebagai putra mahkota.

Sebelum ajal menjemput, Muawiyah meninggalkan wasiat beracun. Ia tahu benar bahwa kedudukan Yazid tak akan pernah aman selama tiga sosok Quraisy masih berdiri: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, dan Husein bin Ali. Bagi Muawiyah, Husein adalah ancaman yang paling nyata karena kedekatan nasabnya yang agung dengan Rasulullah SAW.

Dengan nada yang penuh tipu daya, Muawiyah menitipkan pesan pada Yazid: biarkan Abdullah bin Umar dalam ibadahnya, tundukkan Abdullah bin Zubair dengan kekerasan, dan untuk Husein, biarlah “penduduk Kufah” yang menyelesaikannya. Muawiyah seolah mencuci tangannya, berharap orang-orang Kufah yang dulu mengkhianati ayah dan kakaknya, akan kembali mengulangi sejarah kelam itu. Sebagaimana dicatat oleh Prof. Dr. Aisyah Abdurahman (Bint Al-Syathi), ketika Yazid naik takhta dan mengubah arah kekhalifahan menjadi monarki yang otoriter, rencana jahat itu pun segera dieksekusi.

Ramalan Muawiyah terbukti pahit. Rakyat Kufah, yang dulu membaiat Muslim bin ‘Uqail—utusan Husein—dengan janji kesetiaan, justru berbalik arah karena kilauan dinar dan tumpukan gandum yang disebarkan Yazid. Hati mereka mungkin bergetar karena kerinduan pada cucu Nabi, namun pedang mereka sudah terhunus, siap mengakhiri hidup orang yang paling mereka cintai.

Di Madinah, banyak sahabat yang mencoba menahan Husein, namun tekad beliau sudah bulat. Beliau membawa 73 anggota keluarganya yang paling setia, melangkah mantap menuju takdir yang tak terelakkan di Karbala. Beliau tahu, perjalanan ini bukanlah untuk mencari takhta, melainkan sebuah pernyataan iman bahwa kebenaran harus ditegakkan, meski harus dibayar dengan tetesan darah terakhir di bumi Karbala.

Saat-saat Menjelang Syahid: Pengorbanan di Padang Debu

Karbala telah dikepung. Empat ribu tentara Yazid berdiri dengan angkuh, mengepung rombongan kecil yang hanya berjumlah 32 ksatria berkuda dan 40 pejalan kaki. Di belakang mereka, suara isak tangis wanita dan anak-anak cucu Rasulullah SAW tertahan oleh ketegangan yang mencekam.

Di tengah kepungan maut itu, Imam Husein memacu kudanya ke depan. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk memberikan nasihat terakhir—sebuah upaya kemanusiaan yang sia-sia di hadapan hati yang telah membatu oleh harta.

“Wahai saudara-saudaraku!” suaranya memecah kesunyian padang Karbala. “Dengarkanlah aku. Jangan terburu-buru menghunus pedang sebelum aku menjelaskan alasan kedatanganku. Tidakkah kalian ingat siapa aku? Bukankah aku putra dari putri Nabimu?

Bukankah Hamzah, penghulu para syuhada, adalah paman ayahku, dan Ja’far sang pemilik sayap di surga adalah pamanku?”

Beliau menatap mata pasukan itu satu per satu, berharap menemukan secercah nurani.

“Rasulullah sendiri telah bersabda bahwa aku dan kakakku, Hasan, adalah penghulu pemuda ahli surga. Apakah ini tidak cukup untuk menghentikan kalian menumpahkan darahku?”

Namun, yang ia terima hanyalah kesunyian yang memekakkan, diikuti denting pedang yang mulai terhunus. Hati mereka mungkin masih merindu, namun jiwa mereka telah dijual demi dunia.

Detik-detik Kepergian

Pertempuran yang terjadi kemudian bukanlah peperangan yang setara, melainkan sebuah pembantaian yang paling kejam dalam sejarah bumi. Sahabat-sahabat Husein gugur satu demi satu, memilih untuk menjemput syahid daripada membiarkan Imam mereka sendirian.

Siang itu, di bawah terik mentari yang membakar, Imam Husein melaksanakan shalat khauf dengan sisa-sisa kekuatannya. Setelah shalat, satu per satu anggota keluarganya maju ke medan laga: Ali Akbar yang wajahnya begitu mirip kakeknya, Qasim yang masih belia, hingga sang bayi Abdullah Ashgar yang gugur dalam pelukan ayahnya.

Ketika Imam Husein akhirnya tinggal sendirian, beliau tidak gentar. Beliau tetap melangkah maju, memikul kesedihan yang tak terlukiskan setelah melihat keluarganya bersimbah darah.

Beliau gugur dengan tubuh yang koyak oleh 33 tikaman dan 34 pukulan. Di saat beliau terkapar tak berdaya, Sinan bin Anas mendekat—sebuah noda hitam dalam sejarah—dan memenggal kepala sang cucu Nabi.

Bumi Karbala tenggelam dalam darah. Bahkan setelah napas itu berhenti, pasukan Yazid tetap berbuat keji; mereka memerintahkan kuda-kuda untuk menginjak-injak jasad para syuhada. Wanita dan anak-anak, termasuk Ali Zainal Abidin dan Zainab, diseret sebagai tawanan dengan kehormatan yang diinjak-injak.

Saat kepala Imam Husein diarak di hadapan Ubaidillah bin Ziyad, sang gubernur yang angkuh itu dengan lancang menusukkan tongkat ke gigi Imam Husein. Zaid bin Arqam, yang menyaksikan kekejian itu, tidak kuasa menahan tangis dan murka. Ia berteriak, “Angkat tongkatmu! Demi Allah, aku sering melihat bibir Rasulullah SAW mencium bibir dan gigi Husein ini!”

Itulah akhir dari sebuah kepahlawanan, namun awal dari keabadian. Mereka yang membunuh Husein mungkin merasa menang hari itu, namun bagi sejarah dan bagi mereka yang mencintai kebenaran, Husein tidak pernah mati. Beliau tetap hidup dalam setiap tarikan napas mereka yang menolak ketidakadilan.

Penutup

Menutup lembaran sejarah Karbala bukanlah perkara mudah. Setiap kali kita membalik halaman dan membaca kembali detik-detik kepergian sang cucu Nabi, hati seolah kembali ditarik ke padang tandus itu—merasakan gersangnya tanah yang membasah oleh darah orang-orang suci.

Namun, menziarahi makam Imam Husein bukanlah sekadar perjalanan fisik ke Kairo, Damaskus, atau Karbala. Ia adalah perjalanan batin menuju esensi pengorbanan. Sejarah beliau adalah cermin yang memaksa kita berkaca: Di sisi manakah kita berdiri saat kebenaran diperhadapkan dengan kekuasaan yang zalim? Ketika kemanusiaan diinjak-injak oleh ego dan harta, apakah kita akan menjadi mereka yang berdiam diri karena disogok kenyamanan, ataukah kita akan menjadi mereka yang berani tegak berdiri meski harus menanggung beban penderitaan?

Imam Husein telah memberikan segalanya—darahnya, keluarganya, dan masa depannya—bukan untuk menumpuk harta atau mengejar takhta, melainkan agar nilai-nilai keadilan tidak mati ditelan zaman. Kepala yang dipenggal itu mungkin telah terkubur, namun suaranya tentang kebenaran justru semakin nyaring bergema menembus abad.

Mungkin, lokasi makam beliau yang masih menjadi perdebatan adalah sebuah isyarat ilahiah: agar kita tidak hanya terpaku mencari jejak fisik beliau di balik batu nisan atau kubah masjid, melainkan mencari “makam” beliau di dalam hati kita sendiri. Di sanalah, melalui keberanian untuk jujur dan keteguhan untuk membela yang lemah, Imam Husein benar-benar hidup.

Pada akhirnya, ziarah ini adalah pengingat bahwa kezaliman mungkin tampak menang sesaat, namun ia selalu berakhir dalam kehinaan. Sebaliknya, kebenaran yang diperjuangkan dengan pengorbanan suci akan selalu mendapatkan tempat terhormat, bukan sekadar di bumi, melainkan di puncak langit yang paling tinggi.

Sumber: https://web.facebook.com/photo?fbid=10236286275791613&set=pcb.10236286537758162&locale=id_ID

Admin IJABI
Reporter |  + posts
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berkaitan

Back to top button